Kelin, Lili, dan Cici

Posted: 20/12/2011 in Cerpen

Pagi pun kembali cerah, setelah beberapa jam yang lalu kota imut ini diguyur hujan deras. Aku pun hanya ditemani kelinci-kelinci kesayanganku, Lili, Cici, dan kakak tertua mereka yang mempunyai bulu hitam dengan garis putih dikepalanya, si Kelin. Entah sudah berapa jam mereka berlarian kesana kemari, saling bercanda dan tertawa riang (seolah ngerti bahasa kelinci). Kadang mereka pun menari-nari sambil mengiringi senandung dari aransemennya Goliath, senandung yang paling mereka sukai adalah “…hidup ini mahal bila dipikirkan, cari makan untuk sebulan…. nananana… (klo ngga dipikirin ngga mahal donk! Toh, biar mereka ngga mikir jug ague kasih makan kok. Hehehe…)”. Seakan tidak mempunyai beban apa pun dalam hidupnya. Aktivitas mereka pun hanya berkutat pada tidur, makan, dan tidur lagi (mungkin terobsesi albumnya mbah surip kali yee).
Wajar, karena mereka tidak mempunyai tujuan hidup. Berbeda dengan kita semua yang memang diciptakan untuk senantiasa beribadah kepada Allah sebagai khalifah di muka bumi. Jadi klo sampai saat ini masih ngga punya tujuan yang jelas, ngga ada bedanya dengan kelinci-kelinciku tersebut. Karena pada kenyataannya mereka masih ingat untuk berdzikir kepada Allah, dan bangun di waktu sepertiga malam untuk sekedar makan kangkung yang biasa kuberikan. Klo kamu?
Sebelum menuju kampusku untuk kuliah kembali, daripada ngga ada kerjaan aku pun menuliskan cerita ini sekedar pelipur lara dan gundah (sedikit lebaaay). Dan tentu saja supaya kita lebih bisa menghayati cerita ini, masih dengan backsound di atas. Dan entah kenapa, jari ini pun ikut menari-nari di atas keyboard sambil menyesuaikan dengan tariannya kelinciku yang paling kecil, si Cici.
By the way and bus way, apa bedanya loe dengan kelinci gue? Yah, klo dari segi fisik ngga perlu dibahas deh, udah pasti cantikan kelinci gue. Loh, kok? Udah ngga usah protes, terima apa adanya. Kembali ke pembahasan kita sebelumnya, kira-kira apa bedanya kamu dengan kelinci gue waktu melihat ‘kangkung’? (Sejenis sayuran yang enak klo dimakan, -pent.). Gimana, nyerah?
Yang jelas, kelinci hanyalah kelinci dan manusia hanyalah manusia. Yah, itu sih jawaban orang yang males mikir. Klo kita juga mikir gitu, ngga ada bedanya sebenarnya kita dengan kelinci. Karena kelinci hanya mempunyai instink, dan ngga diberikan akal untuk mikir. Trus? Gini bro, setelah gue tanya langsung nih sama si Kelin ternyata mereka ngga pernah tahu tuh yang namanya kangkung. Mereka cuma berinstink kalo hijau itu adalah rumput, dan rumput buat makan. Jadi disodorin apapun asal berwarnakan hijau mereka pasti akan mencoba memakannya, walaupun ngga bakal dimakan beneran.
Nah, klo manusia ketika melihat rumput hijau ngga akan langsung makan aja kan? Siapa tahu tahi sapi yang sengaja dibuang orang hingga tergeletak tak berdaya. Mereka akan menganalisa terlebih dahulu apakah itu benar rumput atau bukan, dan apa memang bisa untuk dimakan. Para homo sapiens tadi akan berfikir bagaimana kangkung tadi supaya lebih enak untuk dimakan, maka ditambahkanlah garam, bawang dan seterusnya. Bahkan manusia pun mampu untuk meneliti kandungan dari kangkung tersebut dan apa saja manfaatnya bagi tubuh.
Jika dilihat dari komposisi secara fisik memang binatang dan manusia sama-sama memiliki otak, dan sama-sama memiliki nafsu. Akan tetapi hanya manusia saja yang diberikan akal untuk memikirkan alam semesta ini sebagai tanda-tanda adanya Tuhan. Jika akalnya dapat berfungsi secara sempurna dan mampu menguasai nafsunya, maka merekalah orang-orang yang beruntung. Tetapi jika nafsunya malah menguasai akalnya, maka ngga ada jauh beda tuh sama kelinci-kelinciku.
Karena kita tahu bahwa kelinci memang menjadi icon dari playboy, tahu kenapa? Karena memang kelinci adalah satu satu hewan yang paling cepat reproduksinya, sehingga dalam sebulan bisa melahirkan 2-9 ekor anak. Dan paling cepat dewasa, hingga wajar kiranya jika bapaknya bisa langsung ‘menjamba’ anak perempuannya yang berumur 3 bulan. Yah, karena mereka ngga punya akal bang. Jadi harap maklum.
“Prapaaasss in the buuuuuuukkkkk”, si cici tiba-tiba jatuh ke lantai bawah. Aku pun bersegera melihat keadaannya. Nafasnya terlihat tersengal-sengal, tiada satu patah kata pun yang terucap di mulutnya. Namun aku bisa membayangkan betapa sakitnya jatuh dari ketinggian tersebut dengan tubuh sekecil itu. Dan pada akhirnya aku pun harus bisa merelakannya, kedua kakinya patah dan tidak bisa digerakkan sebagaimana mestinya.
Aku sangat pilu melihat kelinci kesayanganku tersebut harus terbaring lemah di kandangnya. Kakinya memang harus diamputasi sesegera mungkin. Tapi kalian pasti tahu kalau aku tidak mempunyai cukup uang untuk membawanya ke UGD RS Damanhuri. Jadi kami pun membuka Posko Peduli untuk operasi amputasi kedua kaki cici. Bagi yang mau menyumbangkan sebagian hartanya, silahkan di transfer ke rekening, Bapak. Sucipto: 1447888900921. Sekian. Terima Kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s