Mewujudkan Pendidikan Gratis dan Berkualitas

Posted: 20/12/2011 in Opini

Miris rasanya jika kita melihat potret pendidikan di negeri ini dalam beberapa dekade terakhir. Diakui atau tidak, problem masih saja terjadi disana-sini; mulai dari sarana yang kurang memadai, membengkaknya anak yang putus sekolah, jual beli nilai, ketidakprofesionalan sebagian tenaga pendidik, infrastruktur sekolah yang sudah kurang layak, kebijakan Pemerintah yang anomali dan kurikulum yang terus gonta-ganti.
Wajah pendidikan yang dulunya bersifat sosial pun berubah menjadi profit oriented. Bahkan visi mulia lembaga pendidikan pun mulai digeser untuk sekedar memetik keuntungan. Profitisasi pendidikan ini tentu saja tidak lepas dari peran para pemilik modal yang ingin menguatkan hegemoni sistem kapitalisme itu sendiri.
Menurut penelitian Human Depelovment Indeks (HDI), pada tahun 2004 pendidikan kita berada diurutan ke-111 dari 175 negara. Kualitas pendidikan Indonesia pun juga sangat menyedihkan. Menurut hasil survey UNDP, kualitas SDM Indonesia ternyata hanya menduduki peringkat 110 dari 179 negara di dunia. Sarana dan prasarana sekolah pun juga kurang memadai.  sehingga banyak sekolah yang kemudian ambruk karena tidak pernah direnovasi selama berpuluh-puluh tahun.
Setiap tahunnya jumlah anak putus sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD) rata-rata mencapai 600.000 hingga 700.000 siswa. Sementara itu, jumlah anak yang putus sekolah pada jenjang SMP mencapai 150.000 hingga 200.000 orang. Sebagian dari mereka pun harus bekerja untuk membiayai sekolahnya, bahkan banyak yang kemudian menjadi anak jalanan dan pekerja di bawah umur.
Fakta tersebut merupakan dampak langsung dari krisis ekonomi di Indonesia. Yang pada akhirnya memunculkan komersialisasi pendidikan. Dan itu semua hanyalah buah dari penerapan sistem kapitalis-sekular yang kita adopsi selama ini.
Padahal dahulu pada zaman Khalifah Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah didirikan Universitas Cordova yang mampu menampung ribuan mahasiswa muslim dan non-muslim secara gratis. Pada masa Dinasti Utsmaniyyah, Khalifah Muhammad II juga menyediakan pendidikan secara gratis di Istanbul. Ia bahkan membangun sekolah-sekolah beserta asrama siswa yang lengkap dengan kamar tidur dan ruang makan. Dan sejarah telah mencatat para ilmuwan-ilmuwan besar muslim seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Khawarizmi, dan lain-lain ternyata terlahir dari universitas-universitas tersebut.
Perhatian Negara Islam pada kesejahteraan guru-guru pengajar pun menjadi prioritas. Pada masa Khalifah Umar ibn Khattab misalnya, beliau telah memberikan kompensasi guru setiap bulannya dari Baitul Mal sebesar 15 dinar emas. Bahkan filosof-filosof terkenal Eropa yang belajar sains dan ilmu pengetahuan banyak yang belajar diberbagai perguruan tinggi Islam di Andalusia. Hingga kemudian terjadilah Renaissance di Eropa.
Untuk mewujudkan pendidikan bermutu seperti itu, harus senantiasa didukung dengan sistem pendidikan yang efisien. Penyelenggaraan pendidikan yang capable, amanah dan tidak korup. Dan yang paling penting Negara harus ikut serta dalam pelaksanaannya dan bisa mengalokasikan dana yang memadai untuk mewujudkan itu semua.
Karena pada faktanya, Negara sepertinya sudah mulai berlepas tangan untuk melaksanakan pendidikan sehingga diprivatisasi oleh para kapitalis asing dan swasta. Hegemoni kebijakan kapitalis dalam bidang pendidikan saat ini memang semakin menguat. Peran pemerintah pun semakin diminimalisasi; dan Negara hanya mengambil fungsi sebagai regulator.
Padahal Negaralah yang seharusnya bertanggungjawab untuk mencerdaskan anak bangsanya. Dan menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua elemen masyarakat. Dan tentu saja itu semua hanya akan terwujud jika Negara mampu memaksimalkan potensi alam di negeri ini berupa migas maupun non-migas secara baik dan tidak menyerahkan pengelolaannya kepada swasta maupun asing.
Dan selama negeri ini masih mengadopsi sistem politik dan ekonomi kapitalisme, rasanya tidak mungkin semua itu akan terwujud. Kecuali jika kita mau kembali untuk melaksanakan syariah Islam secara totalitas. Sebuah sistem yang berasal dari Dzat yang Maha Sempurna dan sudah terbukti selama 3,5 abad mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, baik secara historis maupun praktis.
Karena itu, hanya dengan Islamlah pendidikan di negeri ini akan kembali bangkit dari keterpurukannya. Dan hak-hak masyarakat untuk mengecap pendidikan dapat disamaratakan. Sistem inilah yang menjadi satu-satunya alternatif yang telah terbukti historis. Oleh sebab itu tidak ada alasan lagi untuk menolak Islam sebagai landasan hidup dan peraturan komprehensif dalam berbagai lini kehidupan.
Islam tidak hanya sebuah agama yang berkutat pada ibadah ritual belaka. Tapi merupakan ideologi mendasar yang di dalamnya terpancar peraturan diberbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, bahkan politik.
Sebagai sebuah ideologi, Islam telah menjadi rahmat untuk seluruh manusia. Baik muslim maupun non-muslim apa pun aqidahnya. Dan tentu saja keindahannya itu tidak akan kita lihat jika sampai saat ini kita masih melaksanakannya secara parsial dan pilih-pilih. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain selain kembali melaksanakan Islam secara totalitas. Sehingga kita bisa melihat keindahan peradaban Islam yang sesungguhnya sesegera mungkin. Dan kita pun dapat kembali mengecap pendidikan dengan biaya gratis dan tentu saja berkualitas tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s