R.I.P. (Rest In Peace)

Posted: 22/11/2011 in Muhasabah

Itu memang singkatan dari Rest In Peace – istirahat dalam damai –. Sebutan bagi mereka yang telah meninggal dalam khasanah Barat. Tapi sedamai-damainya mati, siapa sih yang ingin buru-buru mati? Apalagi remaja, wah, pastinya nggak bakalan mau meninggalkan dunia ini pada usia muda. Chairil Anwar yang penyair saja sampai mengatakan ‘aku ingin hidup seribu tahun lagi’ dalam sajak Aku-nya, walau beliau sendiri kemudian mati di usia muda. Lalu ada lagu lama dari kelompok Alphaville, Forever Young, dan Who Wants To Live Forever dari Freddie Mercuri. Man propose, but God dispose. Manusia punya keinginan, tapi Tuhan yang menentukan. Siapa yang tahu kapan kematian akan datang merampas segala impian dan cita-cita kita?

Maka kami tercekat, kaget, ketika seorang teman sekelas meninggal hanya beberapa hari menjelang acara pelulusan sekolah. Kita semua berkomentar, “Kasihan ya, padahal sebentar lagi kita bakal lulus.” Tapi, sekali lagi, siapa yang tahu kematian akan menjemput kita.

Teman, wajar kalau bulu kuduk kita merinding setiap membahas kematian. Terbayang, kita terkurung di dalam tanah yang lembab dan sempit, sendiri dalam kegelapan. Belum lagi bayangan kalau kita bakal diminta bertanggung jawab untuk apa yang sudah kita perbuat. Mati itu mengerikan.

 Tapi apa apa mau dikata, Allah sudah menakdirkan bahwa ada kematian adalah teman kehidupan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. FirmanNya:

 “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian,”(TQS. Ali Imraan [3]:185)

 Kematian juga menjadi bukti kalau manusia itu adalah lemah. Kita cuma mahluk yang tunduk pada kekuasaan Allah. Stalin atau Lenin atau Karl Marx yang menolak adanya Tuhan akhirnya juga harus menghadap Tuhan, tidak kuasa menolak sunatullah bahwa yang hidup itu bakal mati.

 Tapi takut pada kematian sebenarnya tidak perlu. Karena takut ataupun tidak, kematian pasti datang. Kata Imam Ali bin Abi Thalib, “Manusia hidup dikejar rizkinya, sebagaimana ia dikejar kematiannya.” Menolak kematian juga tidak ada artinya. Kemanapun kita akan lari, sekuat apapun kita berusaha, tidak ada yang sanggup melawan kematian. Sang pemisah kenikmatan hidup dengan manusia.

 “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,”(TQS. An Nisaa [4]:78).

Sebenarnya yang harus kita takuti – atau waspadai — bukanlah kematian itu sendiri, tapi dalam keadaan seperti apa kita mati, dan bagaimana caranya bertanggung jawab kepada Allah setelah kita mati. Ya, karena kita akan diminta bertanggung jawab atas semua kelakuan kita di dunia.

 “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”(TQS. Al Baqarah [2]:281).

Maka luar biasa malu dan takutnya kita bila menghadap Allah pada saat teler minuman keras, ketika OD (overdosis), berzina — atau mendekati zina barangkali –, berpacaran, sedang meninggalkan shalat, ketika tidak berpuasa, ketika belum memakai jilbab menutup aurat, saat tawuran, atau ketika melakukan kelakuan-kelakuan maksiat lainnya. Ya Allah, apa yang akan Engkau lakukan pada kami kalau kami menghadapmu saat kami sedang melalaikan perintahmu dan melanggar laranganmu.

Itulah salah satu hikmah yang bisa kita tangkap mengapa Allah menyembunyikan rahasia umur dan kematian. Agar kita menjadi orang yang menjaga perilaku kita. Ajal itu bisa datang kapan saja, tidak pandang umur dan kekayaan. Bisa ketika kita sedang berkumpul dengan keluarga, ketika kita sedang tidur, ketika kita berjalan di pasar, naik kendaraan, ketika sedang shalat, baca Al Qur’an, hanya jangan sampai ketika kita sedang maksiat (na’udzubillah).

Maka berpikir tentang kematian itu bukanlah hal yang negatif, bahkan sangat positif. Membuat kita menjadi lebih dewasa, lebih serius dalam kehidupan, dan tentunya bersungguh-sungguh melaksanakan amal shaleh. Kita akan lebih menghargai setiap saat dalam kehidupan. Saat kita berada di tengah-tengah keluarga, saat kita shalat, membaca Al Qur’an, saat bersama teman, akan kita hargai dan kita isi dengan berbagai perilaku yang positif dan mendatangkan pahala. Banyak orang yang mendapat pelajaran dari kematian. Seorang kawan saya berhenti dari memakai obat-obatan terlarang karena saking seringnya mengingat kematian.

Salah satu pelajaran yang bisa kita lakukan untuk selalu ingat akan kematian adalah mengantarkan saudara kita, teman kita, atau tetangga kita yang meninggal. Dengan begitu kita akan bisa menghayati dengan khusyu’ makna kematian. Kita akan berpikir; hari ini ia, mungkinkah esok atau lusa kita yang akan menemaninya di alam Barzakh?

 “Hendaknya kalian berziarah kubur, karena sesungguhnya (berziarah) itu mengingatkan akan kematian,”(HR. Imam Muslim)

 Masih mau bermain-main di dunia ini dan melupakan Allah, padahal ajal bisa datang kapan saja? Sebaiknya tidak lagi.

 “Orang yang cerdik adalah yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.”(HR. Ibnu Majah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s