DeMotivatica

Posted: 21/11/2011 in Motivasi, Resensi
Tags:

Suatu hari saya bertemu dengan teman lama saya. Mungkin sudah 5 tahun yang lalu kami terakhir bertemu. Ada sebuah hal yang berbeda dengan teman saya yang satu ini. Walaupun dulu pada waktu sekolah di Tsanawiyah Model Barabai dia adalah siswa yang memprihatinkan dan kadang menjadi buah ejekan teman-teman kami, tapi ternyata sekarang dia telah berubah dan bisa dikatakan sukses.

Saya masih ingat dengan sepeda Ontel yang mengantarkannya untuk bersekolah. Dan semangatnya untuk berubah, walaupun harus menempuh jarak 20 km dari rumah ke sekolah. Baju seragam yang lusuh, dan penampilan yang acak-acakan. Tapi ia menghadapi dengan penuh kesabaran. Dan ketika kami semua melanjutkan sekolah ke tingkat atas, ia pun tidak bisa melanjutkannya. Dan memilih untuk membantu ibunya mencari nafkah, karena ayahnya yang sudah lama meninggal dunia.

Tapi itu adalah masa lalunya, dan sekarang ia telah meraih buah manis perjuangannya. Sepeda Ontel itu pun telah digantikan oleh sepeda motor besar berwarna hitam yang mengagumkan sangat pas dengan tubuhnya yang semakin gemuk. Dengan gaji Rp.3.000.000,-/bulan ia pun mampu menafkahi ibu, isteri, dan anaknya. Ini bukanlah gaji yang sedikit untuk seseorang yang hanya lulus dengan ijazah Tsanawiyah, dan mungkin sama dengan gaji guru honorer yang sudah bersertifikasi. Yang menjadi pertanyaan, apa kira-kira yang memotivasinya?

Ada 3 orang yang pastinya telah memotivasinya, dan memberikan semangat untuk bekerja. Dan ketiga orang tersebut tentunya adalah ibu, isteri, dan anaknya. Memang setelah menikah, kehidupannya pun berangsur-angsur berubah. Ya, karena tanggungannya semakin banyak maka wajar rasanya jika Allah memberikannya rezeki yang cukup banyak juga untuk menafkahi keluarganya.

Selain janji Allah yang akan melimpahkan karunia dan rezeki yang banyak bagi orang-orang yang mau menyempurnakan separuh agamanya itu. Saya teringat sebuah anekdot dari seorang PNS kepada temannya yang masih menganggur di suatu kedai dekat kampus. Waktu itu temannya mengeluhkan nasibnya yang tidak pernah lulus tes pegawai negeri walaupun telah mencoba beberapa kali, lalu temannya yang PNS berkomentar kepadanya.

“Apakah kamu tahu kenapa kamu tidak pernah lulus tes PNS?” tanyanya.

“Kenapa?”, jawab temannya dengan penuh tanya.

“Ya, karena kamu belum menjalankan sunah Rasul. Yaitu menikah”, jawabnya.

“Wah, apa hubungannya menikah sama dapat kerjaan?”, elaknya.

“Menikah saja dulu, nanti juga kamu tahu”, jawab temannya meyakinkan.

Ini hanyalah kisah singkat yang sangat berkesan menurut saya. Karena tidak bisa dipungkiri, ketika seseorang telah menikah. Ia tentunya tidak akan sanggup untuk menelantarkan isteri dan anaknya. Segala cara yang bisa menghasilkan uang pun akan dilakukan. Bahkan pekerjaan yang tidak pernah terpikir ketika bujangan pun dilakukan dengan sabar untuk sang isteri tercinta. Inilah kekuatan motivasi yang muncul karena rasa cinta dan tanggung jawab.

Akan tetapi motivasi tersebut hanyalah motivasi yang bersifat sementara. Ketika sumber motivasi itu telah tiada, maka motivasi itu pun akan hilang dengan sendirinya. Nah, sekarang bagaimana jika seandainya ada motivasi yang bersifat kekal dalam diri kita. Apakah kita akan putus asa atau terpuruk?

Tentu saja tidak kawan. Tetapi apa sebenarnya motivasi yang kekal tersebut? Saya akan segera menjawabnya agar Anda tidak penasaran. Tapi sebelumnya kita perlu memahami dahulu apa sebenarnya yang dinamakan motivasi tersebut. Dan bagaimana motivasi kekal bisa ditanamkan dalam diri kita, sehingga kesuksesan dunia dan akhirat dapat kita raih bersama-sama.

Beda Drive dan Motive

Sebenarnya kata “drive” dan “motive” mempunyai arti yang sama yaitu dorongan. Dorongan inilah sebenarnya yang berperan mempengaruhi sikap dan prilaku seseorang. Akan tetapi pada faktanya drive sangat berbeda daripada motive, sehingga keduanya bisa saling mempengaruhi satu sama lain.

Drive  merupakan dorongan yang muncul atas dasar kesadaran dalam diri manusia tentang fungsi hidupnya. Dan dorongan ini cenderung memunculkan sikap dan perbuatan yang ikhlas. Karena semuanya dilakukan dari hati dan proses berfikir. Sedangkan motive  adalah dorongan eksternal diri manusia yang juga mempengaruhi pola sikap dan perbuatan manusia. Akan tetapi lebih di dorong oleh nafsu manusia. Baik nafsu yang positif maupun nafsu yang negatif.

Sehingga inilah yang menentukan ikhlas atau tidaknya suatu perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia. Karena memang pada dasarnya drive dan motive merupakan fitrah manusia, ia memiliki kadar yang sama besarnya dalam diri manusia.

 Namun pada perkembangannya, motive dan drive ini akan saling mempengaruhi dan saling menguasai, hanya kesadaran manusia lah yang menentukan yang mana yang memiliki kadar lebih besar. Apakah drive ataukah motive? Jika kesadaran seseorang tentang tujuan hidup lemah, maka kadar motive akan lebih besar daripada drive, dan seluruh perbuatannya pun terlaksana hanyalah karena tujuan dan motive tertentu saja, tidak karena Allah. Dan sebaliknya, drive akan lebih dominan jika seseorang telah mampu menumbuhkan kesadaran dan memahami makna tujuan hidupnya.

Oleh sebab itu untuk menemukan sebuah dorongan dan motivasi yang hakiki, kita perlu memahami keduanya terlebih dahulu. Dan meletakkan keduanya sebagaimana porsinya yang sesuai. Sehingga setiap apa pun yang kita kerjakan bernilai ibadah disisi Allah SWT.

Intinya kita harus mengutamakan drive (dorongan atas kesadaran) daripada motive yang diberikan oleh orang lain. Karena motive tidak selalu kita dapatkan setiap hari, dan biasanya jika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita motive itu pun akan hilang dengan sendirinya.

Akan tetapi jika kita telah memiliki drive, walaupun tidak ada orang yang memberikan motive kepada kita. Tentu kita akan tetap mempunyai energi untuk melakukan sesuatu perubahan. Yang nantinya akan membawa kita kepada kesuksesan yang tidak disangka-sangka.

Dengan memahami dua hal tersebut, insya Allah kita dapat menjadikan drive sebagai hal yang lebih utama untuk ditumbuhkan. Disamping dari motivasi dari orang lain. Oleh sebab  itu tidak ada salahnya jika kita belajar untuk memotivasi diri kita sendiri dengan jalan meluruskan niat untuk satu tujuan yang hakiki.

Jangan pernah sia-siakan waktu yang telah diberikan oleh Allah SWT ini kepada hal-hal yang tidak berguna. Tapi gunakanlah untuk senantiasa memperbaiki serta mengembangkan diri kita menjadi lebih baik lagi daripada sekarang. Saya yakin, jika kita benar-benar menyadari hal ini. Akan lahir banyak kreatifitas yang akan mengguncang dunia dan tentu saja juga bernilai ibadah disisi-Nya.

Dengan bermodal kemauan dan semangat yang sudah mengakar di dalam diri kita. Insya Allah, kita akan menggapai dan mewujudkan mimpi-mimpi kita yang sempat berserakan. Dan membuktikan pada dunia, bahwa kita pun mampu dan sangat berguna bagi orang lain.

 

Drive dan Motive dalam Islam: Niat

Mungkin  memahami drive dan motive sedikit sulit bagi kita. Walaupun sebenarnya kita sering mengaplikasikannya di dalam kehidupan. Dan biasanya kita lebih mengenalnya dengan istilah “niat”. Saya yakin istilah ini sangat kita kenal dari kecil, jadi penjelasannya pun bisa kita sederhanakan lagi.

Masalah niat memang perkara yang sangat sederhana bagi kita, tapi walaupun begitu ia sangatlah penting dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Bahkan perbuatan apa pun yang kita lakukan, selama niatnya benar-benar karena Allah SWT maka itu pun bisa bernilai ibadah disisi Allah SWT. Rasulullah SAW, bersabda:

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Artinya: Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (Bukhari Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu hal yang paling pokok dalam ajaran Islam. Karena setiap perbuatan selalu berkutat pada 3 hal, yaitu; niat di dalam hati, ucapan, dan tindakan. Dan niat merupakan satu dari 3 hal tersebut, sehingga hadits tentang niat ini adalah salah satu kunci dari kesuksesan. Tergantung apakah niat itu benar ataukah salah.

Imam Ahmad dan Imam Syafi’i pun pernah mengatakan bahwa hadits tentang niat ini mencakup 70 bab dalam ilmu fiqih dan sepertiga dari ajaran Islam. Untuk itu jika kita benar-benar ingin setiap perbuatan kita bernilai ibadah disisi Allah, maka perbaikilah niat di dalam hati kita. Kita tahu bahwa niat mudah sekali berubah, karena niat terletak di hati yang sangat rentan dipengaruhi oleh hawa nafsu ataupun orang lain. Oleh karena itu, memperbaharui niat dan meningkatkan kesadaran itu perlu dilakukan setiap waktu, agar niat kita selalu tetap pada komitmen ibadah dalam setiap perbuatan yang kita lakukan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah di dalam haditsnya tersebut. Beliau sangat jelas menerangkan bahwa setiap apa pun yang kita lakukan, jika itu hanya mengharapkan kemewahan dunia maka hanya itulah yang kita dapat. Tetapi jika mengharapkan keridhoan dari Allah SWT dan Rasul-Nya, maka kita bukan hanya mendapatkan keridhoan keduanya tetapi juga kemewahan dunia itu sendiri.

Contoh sederhana adalah ketika kita berdagang. Jika kita berdagang tersebut hanya mengharapkan untung saja, maka hanya itulah yang akan kita dapatkan. Tetapi jika kita meniatkan di dalam diri kita bahwa berdagang tersebut karena Allah SWT, apalagi untuk menafkahi isteri maupun keluarga kita. Maka bukan hanya untung yang akan kita dapatkan dari usaha berdagang tersebut, tetapi juga keridhoan dari Allah SWT dan bernilai ibadah disisi-Nya.

Nah, sekarang apakah kita hanya ingin mendapatkan kenikmatan di dunia ini saja. Ataukah juga kenikmatan di akhirat? Saya yakin kita mengharapkan kenikmatan keduanya. Dan inilah yang saya maksudkan kesuksesan di dunia dan di akhirat.  Untuk itulah saat ini kita mulai belajar memperbaiki niat kita yang sempat bengkok, dan memperkuat kembali niat yang sudah lurus ini.

Lalu apa hubungannya dengan drive dan motive?  Sebelumnya tentu kita sudah memahami bahwa drive merupakan dorongan yang timbul dari kesadaran dalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motive merupakan dorongan eksternal yang kebanyakan berdasarkan hawa nafsu kita. Ini sama perbandingannya seperti akal dan hawa nafsu.

Jika hawa nafsunya lebih dominan daripada akalnya, maka bisa dibayangkan bagaimana hasilnya. Dan jika akal kita menjadi yang lebih kita utamakan daripada nafsu, ia akan menjadi setir yang akan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Makanya saya mengatakan bahwa jika kita masih berharap kenikmatan dunia seperti harta, jabatan, wanita, dan sebagainya dalam setiap perbuatan kita. Maka ini hanyalah motivasi yang fana’ dan tidak akan menyelamatkan kita.

Akan tetapi jika kita menumbuhkan drive yang ada pada diri kita sebagaimana mestinya. Maka insya Allah akan lahir sebuah motive yang benar-benar hakiki. Yaitu motive bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan hanyalah karena Allah SWT. Inilah yang akan melahirkan sebuah motivasi yang kekal dan benar.

Karena memang jika kita hanya memiliki motivasi untuk seseorang, maka ketika seseorang tersebut sudah tidak ada lagi maka motivasi itu pun akan hilang dalam sekejab. Begitu juga jika motivasi kita karena harta benda, jika harta itu tidak bisa kita dapatkan. Maka kita pun akan kehilangan semangat untuk berjuang. Berbeda jika kita memiliki motivasi karena Allah SWT. Kita tahu bahwa hanya Allah-lah yang kekal dan abadi. Sehingga kita tidak akan pernah kehilangan motivasi kita, bahkan mungkin akan terus-menerus menguat dalam diri kita.

Inilah motivasi yang seharusnya dimiliki oleh seorang muslim. Jika ia sudah memahami hal ini, maka tidak akan ada lagi keputusasaan. Karena kita sudah siap lahir batin dengan hasil apa pun yang kita dapatkan dari segala usaha yang kita lakukan. Dan kita akan mudah memahami law of attraction yang sebenarnya pada pembahasan berikutnya.

Maka biarkan semangat ini mengalir di dalam seluruh aliran darah kita, bergejolak dan membakar jiwa kita untuk terus berjuang menjadi yang terbaik untuk ummat dan Islam. Jangan pernah ragu untuk menorehkan sesuatu yang akan mengguncangkan dunia ini. Walaupun mungkin dunia tidak pernah tahu siapa kita, tapi paling tidak mereka mengetahui sumbangan kita untuk perjuangan ini. Jadi bersiaplah untuk bermimpi kawan. Semangkaaaaaaaa!!! (Semangat karena Allah). [Putera Al Fatih]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s