Multikulturalisme Pendidikan

Posted: 14/11/2011 in Konsfirasi, Opini
Tags:

Arus globalisasi dan westernisasi semakin menyuburkan paham-paham barat dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini. Liberalisme, pluralisme, dan sekularisme adalah agenda globalisasi yang sampai saat ini masih menggerogoti pola pikir masyarakat. Kehadiran globalisasi perlu kita waspadai, sebab agenda-agendanya sangat membahayakan kehidupan masyarakat, baik sosial, budaya, politik bahkan agama. Salah satu wacana yang hadir dalam kehidupan masyarakat adalah munculnya paham multikulturalisme dan pendidikan yang berbasis multikultural.

Perlu kita pahami bahwa multikulturalisme bukanlah hanya sebagai wacana, tetapi merupakan sebuah ideologi. Yaitu ideologi yang dikembangkan melalui bangunan perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut diramu sehingga menghasilkan teori bahwa tidak ada klaim kebenaran (truth claim) dan superior diantara golongan. Karena menurut paham ini kebenaran itu relatif dan manusia tidak dapat meraih kebenaran yang absolut. Sedangkan menurut Islam kebenaran absolut dapat diraih manusia melalui wahyu, akal, dan panca indera. Selain itu Allah juga mengutus Rasulullah SAW untuk menunjukan kebenaran tersebut, sehingga keragu-raguan terhadap kebenaran Islam dapat dihilangkan.

Multikulturalisme menganggap bahwa semua agama adalah sama, tidak ada yang lebih baik atau lebih benar dari yang lain. Kita pun diminta terbang ke atas dititik netral agama, sehingga kita bisa melihat dengan jelas masing-masing agama dengan melepaskan ikatan kita terhadap suatu agama tertentu dan melihatnya secara universal. Kemudian kita bisa mengambil apa-apa yang kita rasa sesuai dari setiap agama. Jika kita berfikir seperti itu, kita akan ragu dan cenderung skeptis terhadap ajaran Islam yang selama ini kita anut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paham ini bertentangan dengan ajaran tauhid kita.

Pendukung multikulturalisme juga beranggapan bahwa menikah berbeda agama adalah sah. Ini dibuktikan dengan dibolehkannya kawin campur antara laki-laki muslim dengan wanita non-muslim, begitu juga sebaliknya. Padahal Islam melarang kita untuk nikah berbeda agama sebelum pasangan kita masuk pada agama Islam. Begitu juga Islam memandang perbuatan baik dan buruk. Jika perbuatan baik dan buruk dianggap sama dan sederajat, maka buat apa kita berbuat baik? Sehingga Islam juga memandang perbuatan baik sebagai perbuatan yang lebih utama dari pada perbuatan buruk.

Saat ini, multikulturalisme menjadi salah satu isu yang ingin dimasukan dalam dunia pendidikan. Sebab, multikulturalisme dianggap perlu untuk dikembangkan. Karena Indonesia memiliki kekayaan kultur, tradisi, dan lingkungan geografis serta demografis yang beragam. Mengingat pendidikan menempati posisi yang sangat vital. Maka diharapkan paham seperti ini dapat dicegah, sehingga tidak akan menciptakan generasi yang membingungkan dan ragu-ragu terhadap agama Islam itu sendiri. Inilah bahayanya ide/teori multikulturalisme, dan ide ini sebenarnya adalah kepanjangan dari ide pluralisme yang pada saat sekarang ini banyak ditentang oleh masyarakat.

Cara yang paling efektif untuk menghindari kerancuan aqidah umat adalah dengan memfilter nilai-nilai globalisasi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Melalui pendidikan, masyarakat dididik untuk bisa membedakan antara baik-buruk, benar-salah, hitam-putih, dan haq-bathil. Jika yang diajarkan adalah kerelativitasan, maka yang ada hanya menciptakan peserta didik yang ragu-ragu dan skeptis serta tidak berani mengatakan kebenaran.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan multikulturalime bukanlah solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada, justru akan memberikan efek yang sangat membahayakan kepada peserta didik. Sebab tujuan dari pendidikan multikulturalisme adalah persamaan dan kesederajatan. Jika antara benar dan salah dianggap sama, budaya baik dan buruk dianggap sama, maka yang terjadi adalah kebingungan yang berkepanjangan bagi peserta didik. Inilah yang menimpa masyarakat barat, bingung dengan tujuan hidup mereka.

Kita harus menyadari bahwa Islam mengakui adanya perbedaan yang terjadi dimasyarakat, dan ini sunatullah. Dan kita juga diajarkan untuk bisa menerima perbedaan tersebut dengan masih menyandarkan tauhid sebagai dasarnya. Jadi kita tidak perlu memiliki pemahaman yang multikultural untuk bisa menghargai perbedaan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita yang majemuk. (Putera Al Fatih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s