Kebangkitan: Selogan atau Tuntutan?

Posted: 14/11/2011 in Agen Islam, Opini
Tags:

Momentum Harbangnas (Hari Kebangkitan Nasional) yang jatuh pada tanggal 20 Mei adalah hari dimana lahirnya para pemuda yang mempunyai semangat kebangkitan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keluar dari penjajahan. Sudah lebih dari satu abad wacana ini dikumandangkan, sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 hingga saat ini.

Tetapi entah kenapa saat ini semangat tersebut mulai pudar di telan waktu. Momen berharga tersebut kemudian hanya berisi seremonial yang tidak memiliki makna mendalam tentang arti kebangkitan itu sendiri. Selogan-selogan kebangkitan pun seakan menjadi nyanyian kosong yang kehilangan iramanya. Terbukti dengan semakin memburuknya krisis yang terjadi di negeri yang dulu disebut-sebut sebagai zambrud khatulistiwa ini.

Negeri ini pun sudah beberapa kali berganti presiden, bahkan diikuti dengan pergantian sistem pemerintahannya. Dari sistem Presidensial, Parlementer, Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin, hingga Kapitalisme Sekular yang masih berjalan hingga saat ini. Akan tetapi ternyata sistem-sistem yang pernah dijalankan di Indonesia belum bisa membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dalam bidang ekonomi, negeri ini pun masih mewarisi hutang luar negeri hingga Rp 278 trilliun. Bahkan Pembayaran hutang ini menyita 13,68% dari belanja negara di tahun 2011. Korupsi pun seakan telah mengakar kuat di negeri ini, dari tahun 2001-2009 saja jumlah uang yang dikorupsi mencapai Rp.73,07 Triliun. Bahkan untuk setengah tahun pada 2010 pun sudah Rp.2,1 Triliun uang yang raib ke kantong-kantong penjabat. Belum lagi yang berhasil dikorupsi Gayus dan kawan-kawannya.

Dalam bidang pendidikan, negeri ini juga masih tertinggal jauh dari negara-negara lain. Baik dari fasilitas, standar pendidikan, maupun kualitas SDM yang dihasilkan. Belum lagi Setiap tahunnya jumlah anak putus sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD) rata-rata mencapai 600.000 hingga 700.000 siswa. Sementara itu, jumlah anak yang putus sekolah pada jenjang SMP mencapai 150.000 hingga 200.000 orang. Sebagian dari mereka pun harus bekerja untuk membiayai sekolahnya, bahkan banyak yang kemudian menjadi anak jalanan dan pekerja di bawah umur.

Selain itu angka kriminalitas pun semakin meningkat, jumlah pengangguran juga tidak kalah banyaknya dan angka kemiskinan pun melonjak menjadi 2,7 juta jiwa di tahun 2011. Krisis ini pun kemudian membuat para intelektual kita kebingungan untuk menentukan apa yang menyebabkan krisis ini terjadi dan bagaimana melakukan kebangkitan.

Sebagian dari mereka mengatakan bahwa pokok permasalahannya karena bidang ekonominya. Sehingga ekonomilah yang perlu dibangun. Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa akhlak lah yang perlu diperbaiki, karena ekonomi yang bagus hanya akan dikorupsi jika penjabatnya tidak berakhlak. Maka akhlaklah yang perlu diperbaiki. Tetapi akhlak tidak bisa diwujudkan jika pendidikan tidak baik, maka pendidikanlah yang perlu diperbaiki. Begitulah seterusnya, akhirnya mereka pun bingung menentukan dimana sebenarnya akar masalah dari krisis-multidimensi yang telah terstruktur ini.

Pertama, kebangkitan dapat diraih dengan tingginya taraf ekonomi. AS dan Rusia sebelum bangkit adalah negeri yang sangat miskin. Jadi ekonomi bukanlah landasan kebangkitan. Sebagaimana Kuwait dan Brunei yang memiliki perekonomian yang tinggi, ternyata tidak terlalu berpengaruh di kancah perpolitikan dunia.

Kedua, kebangkitan dengan pendidikan. Rakyat Indonesia bukanlah masyarakat bodoh. Setiap tahunnya, banyak sarjana-sarjana, master, doktor, bahkan profesor yang lahir. Tetapi ternyata semua itu belum bisa membangkitkan negeri ini.

Ketiga, kebangkitan melalui akhlak. Hal ini juga tidak benar. Karena AS, Inggris, dan Perancis sangat berpengaruh di dunia Internasional padahal akhlak masyarakatnya rusak. Berbeda dengan masyarakat Madinah yang luhur, ternyata itu belum bisa membangkitkan mereka. Jadi bagaimana sebenarnya kebangkitan hakiki itu? Yang bukan hanya selogan kosong, tetapi sebuah tuntutan yang seharusnya kita perjuangkan. 

Kita harus yakin bahwa kebangkitan itu hanya bisa diraih dengan peningkatan taraf berfikir kita. Yaitu sebuah pemikiran yang mendasar tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan. Inilah yang akan melahirkan sebuah ideologi yang sesuai dengan akidah Islam. Karena kita bisa melihat dengan kaca mata sejarah bagaimana Rusia bangkit dengan ideologi sosialis-komunisnya, kemudian saat ini AS bangkit dengan ideologi kapitalis-sekularnya dan memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga kita pun perlu menteladani Rasulullah SAW dalam membangkitkan umat. Yaitu dengan meningkatkan taraf berfikir masyarakat serta melaksanakan hukum-hukum Islam secara totaliter dan menjadikan Islam sebagai ideologi satu-satunya ditengah masyarakat.

Karenanya, harus ada pembinaan masyarakat sehingga ideologi Islam terinternalisasi pada diri umat. Dengan itulah umat akan tergerak untuk melakukan perubahan menuju kebangkitan yang hakiki yang bukan hanya sekedar selogan. (Putera Al Fatih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s